penghargaan film indonesia

Penghargaan Bank Indonesia

Penghargaan Bank Indonesia

Film horor Indonesia ‘Makmum’ sempat menuai kritikan usai penayangan trailer-nya. Menurut sejumlah pihak, film ini membuat orang takut shalat sendirian, terlebih pada malam hari.

penghargaan film indonesia

Puncaknya kontroversi itu berlanjut dengan munculnya petisi yang mengajak netizen beramai-ramai memboikot film tersebut di Indonesia. Namun, meski kontroversial film ini menempati posisi kedua sebagai film paling banyak ditonton tahun 2019 dengan total 2.538.473 penonton. Dua Garis Biru sempat menjadi kontroversi karena dianggap mengkampanyekan hubungan seks bebas. Memang film ini lebih kental dengan tema keluarga yang penuh dengan simbol metafora di dalamnya. Namun hal itu nampaknya tak menjadi penghalang film Jagal menunjukkan prestasi. Di Indonesia sendiri, Makmum sukses mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia . Film horor ‘Makmum’ sempat menuai kritikan usai penayangan trailer-nya.

Usai menyelenggarakan festival film 1955, tahun berikutnya Djamaluddin Malik tidak mengadakan festival. Selama tiga tahun, tepatnya tahun 1956 hingga tahun 1959 tidak ada lagi festival film.

IMA hadir untuk memberikan apresiasi kepada pemeran film terbaik, karena mereka memiliki bakat dan prestasi. IMA setiap tahun akan selalu hadir dengan format baru dan tentu berbeda dengan FFI. Menurut Didi Petet, dewan juri dan penggagas IMA, ajang IMA lebih mengutamakan bakat dan prestasi, bukan popularitas artis atau film. Artis-artis baru yang mempunyai bakatlah yang akan mendapatkan penghargaan IMA, karena IMA hadir untuk mempromosikan artis yang berbakat.

Sejak saat itu, FFI menetapkan aturan bahwa dewan juri harus memilih Film Terbaik. YFI mengadakan festival film tahun 1973, yang seterusnya disebut Festival Film Indonesia, dengan menobatkan Perkawinan karya Wim Umboh, meraih pula piala untuk sutradara terbaik. Di satu sisi, pemilihan Aktor/Aktris Terbaik versi wartawan dihentikan pada tahun 1975 alias terintegrasi dengan YFI. Pada sisi lain, Departemen Penerangan memprakarsai dibentuknya Dewan Film Nasional.

Tiga Musisi Indonesia Raih Penghargaan Mama 2020

Namun di sisi lain, tak sedikit pula dari film-film Indonesia tersebut yang menuai kontroversi dengan beragam alasan. Dengan 10 rekomendasi ini, semoga Anda bisa berbangga dengan para talenta lokal kita dan terus mendukung kemajuan industri film Indonesia. Disutradarai oleh Joko Anwar, Pengabdi Setan adalah film horror yang berpusat pada sebuah keluarga bernasib buruk, yang mengalami berbagai peristiwa menyeramkan setelah kematian ibu mereka. Keluarga ini pun bersatu untuk bisa bertahan hidup, tanpa menyadari bahwa sebenarnya kejahatan ada di antara mereka. TABLOIDBINTANG.COM- Netflix semakin banyak menghadirkan berbagai tayangan Indonesia yang berkelas – mulai dari film original The Night Comes for Us hingga film blockbuster seperti Love for Sale. Diselenggarakan oleh Forum Film Dokumenter yang kini dikenal dengan Komunitas Dokumenter.

2020 dibuka dengan sebuah film drama keluarga yang langsung menyita perhatian. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini jadi film Indonesia pertama di 2020 yang menyentuh satu juta penonton. Setali tiga uang dengan Humba Dreams, film Mudik juga mestinya jadi film yang tayang di bioskop saat momen lebaran. Namun apa daya, Mudik harus mencari rumah sendiri dan akhirnya memilih Mola TV. Pandemi membuat film besutan Riri Riza ini batal tayang di bioskop Tanah Air.

penghargaan film indonesia

Humba Dreams seharusnya tayang di bioskop Indonesia pada pertengahan tahun, tapi hal itu tidak memungkinkan karena bioskop tutup.

Film yang berkisah tentang asal usul kuntilanak ini punya kengerian yang dikemas dengan baik. Penonton dibuat enggak bisa duduk tenang dengan adegan-adegan yang menyeramkan. Dengan pengambilan gambar yang apik, warna yang dipilih juga semakin menambah keangkeran film ini.

Maka melalui lembaga ini pelaksana FFI tahun 1981 yang dilakukan YFI dilebur. Maka pada tahun 1982 penyelenggaraan FFI ini sepenuhnya dikelola oleh Dewan Film Nasional. Di bawah ini adalah daftar penerima penghargaan Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia sejak tahun 1955. Mulai tahun 1979, judul film pemenang diikuti nominasi film terbaik lainnya film bioskop indoxxi.

Ini Daftar Film Hollywood Siap Tayang Di Bioskop Sepanjang 2021

Menurut sejumlah pihak, film ini membuat orang takut salat sendirian, terlebih di malam hari. Lalu, penghargaan Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Penata Musik Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, dan Penata Busana Terbaik. Kontroversi itu pun berlanjut dengan munculnya petisi yang mengajak warganet beramai-ramai memboikot film tersebut di Indonesia. Film ini menempati posisi kedua sebagai film paling banyak ditonton tahun 2019 dengan total 2.538.473 penonton. Padahal, bila diperhatikan film tersebut lebih kental dengan tema keluarga yang penuh dengan simbol metafora di dalamnya. Kali ini, ia menggarap cerita bertema remaja dan keluarga bertajuk ‘Dua Garis Biru’. Berkisah tentang sepasang remaja SMA yang terjebak dilema karena masalah hamil di luar nikah.

Tahun 1960 baru diadakan kembali festival film, diselenggarakan di Jakarta, Februari, film terbaiknya adalah Turang yang disutradarai Bachtiar Siagian yang juga dinobatkan sebagai sutradara terbaik. Barulah pada bulan Agustus 1967 diadakan Pekan Apresiasi Film Nasional, sebagai nama lain dari FFI ketiga setelah 1955 dan 1960. Pekan Apresiasi Film Nasional 1967 diadakan di Jakarta, 9-16 Agustus, yang tidak ada film terbaik. Untuk pemeran utama pria ialah Soekarno M. Noor dan pemeran utama wanita yaitu Mieke Wijaya . Pada Festival Film Indonesia 1984, FFI lagi-lagi tidak menetapkan peraih Piala Citra untuk Film Terbaik. Favorit pemenang, Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C Noer oleh juri diangap bukan film cerita, tetapi lebih merupakan doku-drama.

Kategori Film Terbaik pada tahun 2006 tetap dimasukkan, meskipun terjadi pembatalan pemenang kategori ini pada tahun tersebut, untuk menghargai karya para nominator yang lain. Indonesian Movie Awards yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 2007 dibuat karena ajang Festival Film Indonesia 2006 yang hasilnya cukup mengecewakan bagi Masyarakat Perfilman Indonesia.